Kisah terbentuknya Megadeth tidak bisa dipisahkan dari konflik yang terjadi di tubuh Metallica. Pada April 1983, Dave Mustaine yang kala itu menjadi gitaris utama Metallica dikeluarkan dari band karena masalah perilaku, kecanduan alkohol, dan perselisihan dengan anggota lain. Keputusan itu begitu menyakitkan bagi Mustaine, namun justru menjadi titik awal lahirnya salah satu band thrash metal terbesar dalam sejarah: Megadeth.
Awal Terbentuknya Megadeth
Dalam perjalanan pulang ke Los Angeles setelah dipecat, Mustaine menemukan selebaran politik yang menyebut istilah “arsenal of megadeath.” Kata itu langsung menancap dalam benaknya, lalu ia ubah menjadi Megadeth untuk nama band barunya. Mustaine ingin membuktikan diri bahwa ia mampu membuat musik yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih teknis dibandingkan Metallica.
Sesampainya di Los Angeles, Mustaine bertemu dengan seorang bassist muda asal Minnesota bernama David Ellefson. Pertemuan ini menjadi fondasi awal Megadeth. Setelah melalui beberapa kali pergantian personel, formasi awal yang solid akhirnya terbentuk bersama Gar Samuelson (drum) dan Chris Poland (gitar). Dengan lineup ini, Megadeth mulai menggarap materi yang penuh amarah dan kompleksitas musikal tinggi.
Debut Album: Killing Is My Business… and Business Is Good! (1985)
Megadeth menandai langkah pertamanya lewat album Killing Is My Business… and Business Is Good! yang dirilis pada Juni 1985 di bawah label Combat Records. Album ini diproduksi dengan dana yang sangat minim sekitar 8.000 dolar AS dan sebagian besar dana awal justru terpakai untuk kebutuhan pribadi band. Akibatnya, mereka harus memproduksi sendiri albumnya.
Meski kualitas produksinya kasar, album ini disambut positif oleh komunitas metal underground. Energi liar, riff cepat, dan lirik gelap yang ditawarkan Megadeth membedakan mereka dari band-band lain pada masa itu. Mustaine juga menegaskan ciri khas gaya vokalnya yang agresif dan teknik gitarnya yang penuh kecepatan.
Titik Balik: Peace Sells… but Who’s Buying? (1986)
Setahun kemudian, Megadeth merilis album kedua berjudul Peace Sells… but Who’s Buying? yang sekaligus mengangkat nama mereka ke level internasional. Lagu “Peace Sells” menjadi single andalan dan berhasil menarik perhatian MTV berkat video musiknya yang menampilkan kritik sosial dan potret generasi muda yang memberontak.
Album ini tidak hanya memperkuat posisi Megadeth di kancah thrash metal, tetapi juga membuktikan bahwa mereka bisa bersaing dengan Metallica dan band besar lainnya. Banyak kritikus menilai Peace Sells sebagai salah satu album thrash metal paling berpengaruh sepanjang masa.
Megadeth dan “Big Four” Thrash Metal
Pada akhir 1980-an, thrash metal berkembang pesat di Amerika. Dari banyaknya band yang muncul, hanya empat yang dianggap sebagai pilar utama: Metallica, Slayer, Anthrax, dan Megadeth. Keempatnya dikenal dengan sebutan “Big Four of Thrash Metal”.
Bersama-sama, mereka mendefinisikan suara thrash yang keras, cepat, dan penuh agresi. Mustaine, meski pernah tersingkir dari Metallica, berhasil mengukuhkan Megadeth sebagai band yang berdiri sejajar dengan mantan bandnya itu.
Puncak pengakuan datang pada tahun 2010 ketika keempat band legendaris ini tampil bersama dalam Sonisphere Festival sebuah momen bersejarah yang menegaskan pengaruh besar Big Four dalam dunia musik metal.
